Jumat, 14 November 2008

Kabah, Pusat Kegiatan Ibadah Haji



EPA/MOHAMED MESSARA / Kompas Images
Kabah merupakan bangunan tempat kita menghadapkan diri setiap kali shalat, di mana pun kita berada.

BEGITU sampai di Mekkah dan pertama kali melihat Kabah, nyaris setiap orang menitikkan air mata. Bahkan, bagi sebagian orang, hal ini berlaku setiap kali mereka datang ke Mekkah dan melihat Kabah. Bangunan Kabah sering kali memunculkan rasa haru yang mendalam.

Inilah bangunan tempat kita menghadapkan diri setiap kali shalat, di mana pun kita berada. Sesuatu yang sebelumnya tak tampak dan hanya ada dalam benak, hadir wujudnya di depan mata. Kini Kabah berada langsung di depan mata anggota jemaah. Indera penglihatan ini bisa memuaskan diri untuk memandang Kabah selama yang diinginkan.

Itulah hal yang sering kali membuat setiap anggota jemaah menitikkan air mata begitu melihat Kabah. Apalagi, pada masa berhaji, begitu banyak orang yang melakukan tawaf di sekeliling Kabah, tanpa melihat waktu, apakah itu pagi, siang, bahkan dini hari sekalipun. Kabah pada musim berhaji bisa dikatakan tak pernah sepi, kapan pun.

Melihat begitu banyak orang tawaf sambil membaca doa tawaf (berputar ke arah kiri sebanyak tujuh kali), ditambah dengan begitu banyak pula orang yang mengerjakan shalat di sekeliling Kabah, membuat hati semakin terasa tunduk dan takjub pada kebesaran Allah.

Ada doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika melihat Kabah: Allahumma zid hadzalbaita tasyrifan wata’dhiman watakriman wamahabbatan wa zid mansyarrafahu wa’adzdzamahu wa karramahu mimman hajjahu awi’tamarahu tasyrifan wata’dhiman watakriman wabirran (Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan dan wibawa pada Bait (Kabah) ini. Tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, mengagungkan, dan menghormatinya di antara mereka yang berhaji atau yang berumrah dengan kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kebaikan).

Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani dalam bukunya, Sejarah Kota Mekah Klasik dan Modern, menyebutkan, Kabah sering kali pula disebut sebagai Al-Bait, Baitullah, Al-Baitul Haram, Al-Baitul al-’Atiiq, dan Kiblat. Bangunan empat persegi panjang ini pada sudut timurnya disebut rukun Aswad, tempat Hajar Aswad; sudut selatan disebut rukun Yamani (sebab menghadap Yaman), sudut utara dinamakan rukun Irak (menghadap Irak), dan sudut barat adalah rukun Syam (menghadap Suriah).

Baitullah sebenarnya sudah ada sebelum dibangun Nabi Ibrahim. Namun, kondisinya hancur. Tempat inilah yang kemudian dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Setelah itu, Kabah mengalami berkali-kali pembangunan. Dalam Shahih Bukhari disebutkan, Yazid bin Ruman menyebutkan, Abdullah bin Zubair telah membangun Kabah pada fondasi yang lama.

Pembangunan Kabah menjadi permanen dilakukan pada masa Mekkah dikuasai suku Bani Quraisy, tahun 18 sebelum Hijriah. Mereka juga memberi atap Kabah dan membuat talang untuk membuang air dari Hijir Ismail. Bangunan Kabah pun ditinggikan menjadi 8,64 meter dari sebelumnya 4,32 meter. Pada masa inilah Rasulullah mengangkat dan meletakkan Hajar Aswad.

Tahun 1417 H, Raja Fahd bin Abdul Aziz memerintahkan rehabilitasi Kabah. Raja Fahd juga memperbarui dan melapisi mizab (bagian di atas Kabah untuk mengalirkan air) dengan emas.

Tentang pintu Kabah diceritakan, semula Nabi Ibrahim membuat dua pintu, di timur sebagai pintu masuk dan sebelah barat sebagai pintu keluar. Ketika orang Quraisy merehabilitasi Kabah, ditutuplah pintu barat, dan pintu timur dibuat menjadi dua. Raja Khalid bin Abdul Aziz Ali Saud yang kemudian memerintahkan untuk memperbarui pintu itu dan melapisinya dengan emas pada 1399 H.

Ada banyak kisah tentang sejarah penggunaan kiswah sebagai penutup Kabah. Ada yang menyatakan bahwa kiswah pertama kali dilakukan Nabi Ismail, ada yang berpendapat seorang penguasa Yaman, As’ad al-Himyari, yang melakukannya, ada pula yang menyatakan selain itu.

Hajar Aswad

Terdorong rasa haru dan keinginan untuk ”mengenal” lebih jauh Kabah, orang sering kali berusaha untuk menyentuh Kabah meski tujuan utama pada umumnya jemaah adalah bisa mencium atau setidaknya menyentuh Hajar Aswad, yang terletak di sisi selatan Kabah. Hajar Aswad memang tak bisa dipisahkan dari Kabah karena batu ini tertanam di dalam tembok Kabah.

Multazam

Hajar Aswad adalah tempat memulai dan mengakhiri tawaf. Selain ingin menyentuh dan mencium Hajar Aswad, jemaah biasanya juga ingin berdoa di Multazam yang berada di antara Hajar Aswad dengan pintu Kabah.

Dalam buku Tanya Jawab Ibadah Haji yang dikeluarkan Departemen Agama tahun 2003 disebutkan, hukum munajat (mencurahkan isi hati, berserah diri, mendekatkan diri kepada Allah) di Multazam adalah sunah, bila keadaan memungkinkan.

Hijir Ismail

Bangunan lain di Kabah adalah Hijir Ismail, yang juga disebut Al-Hathim. Hijir Ismail berbentuk setengah lingkaran, terbuka, dan terletak di antara rukun Syam dan rukun Irak. Bila bisa mencapai Hijir Ismail, anggota jemaah dapat melakukan shalat sunah, berdoa, dan berzikir.

Namun, dalam buku Tanya Jawab Ibadah Haji disebutkan, shalat sunah di Hijir Ismail ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan tawaf. Namun, keutamaan shalat di Hijir Ismail disebutkan sama dengan shalat di sekitar Kabah.

Sementara dalam buku Sejarah Kota Mekah ditulis, Aisyah berkata, ”Saya sangat senang untuk memasuki Baitullah dan bisa melakukan shalat di dalamnya. Lalu, Rasulullah memegang tangan saya dan memasukkan saya ke dalam Hijir Ismail. Kemudian beliau bersabda, ’Shalatlah di sini jika engkau ingin masuk ke dalam Baitullah sebab dia merupakan bagian dari Baitullah.’” (HR at-Tirmidzi).

Maqam Ibrahim

Ada lagi bagian dari Kabah yang disebut sebagai Maqam atau Makam Ibrahim. Meskipun namanya makam, ini bukanlah tempat Nabi Ibrahim dimakamkan. Ada yang menyebutkan Maqam Ibrahim adalah tempat pertama kali Nabi Ibrahim membangun Kabah. Namun, ada pula yang menyatakan bahwa ini adalah tempat batu yang dibawa Nabi Ismail, dan menjadi pijakan Nabi Ibrahim ketika membangun Kabah.

Di Maqam Ibrahim, jemaah biasanya melakukan shalat sunah dua rakaat. Pada rakaat pertama setelah membaca Al Fatihah, dianjurkan membaca surat Al Kafirun. Pada rakaat kedua setelah Al Fatihah, sebaiknya dibaca Al Ikhlas. Setelah selesai shalat sunah, dianjurkan pula agar jemaah membaca doa.

Kunci utama

Masih banyak keutamaan ibadah yang dapat dilakukan di sekitar Baitullah dan Kota Mekkah yang dicontohkan Rasulullah SAW. Akan tetapi, penyerahan diri, kepasrahan, dan keikhlasan terhadap Allah SWT dan agama Islam menjadi kunci utamanya. Baitullah hanyalah sebuah bangunan, tetapi bangunan itu menjadi simbol bahwa Allah SWT dan Islam ”turun” ke bumi.

Tidak heran bahwa di sinilah segala aktivitas ibadah bermuara. Tidak heran pula ketika Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa shalat di Masjidil Haram itu mendapat pahala sampai 1.000 kali lipat dibandingkan shalat di masjid lain. Wallahu a’lam bis shawab. (CP/MBA)

1 komentar:

Perjalanan Hajiku mengatakan...

Blog yang akan membuat ummat semakin banyak ilmu